- Back to Home »
- Theater dan Bunga Misteri (part 3)
Posted by : Unknown
Senin, 26 Agustus 2013
sumber
: http://www.janganbacaya.blogspot.ca/
"...tak
terlihat bukan berarti tak nyata"
Postingan yang ini sedikit-banyak
ada keterkaitan dengan postingan sebelumnya. Ya, di bagian akhir saya sempat
mengutip sedikit percakapan dengan orang wardrobe, dan di sini saya
akan mencoba menjelaskan maksudnya. Masih seputar JKT48 Theater beserta para
penghuninya. Tapi penghuni yang ini agak berbeda.
Mungkin yang akan dibahas nanti
sedikit di luar nalar, jadi saya nggak maksa untuk pada percaya. Anggep aja ini
sebagai info tambahan dan gambaran, kalau sebetulnya kita semua itu lagi
diawasi oleh - entah siapa dan di mana.
***
Coba, yang ngaku dirinya Wota atau
Woti atau Sasuga, Sekaimen, apalah itu; kalian pernah tau asal-usul ruang JKT48
Theater? Kayaknya hampir semua orang yang saya tanya soal ini pasti pasang
wajah bingung, alias nggak ngerti. Bahkan para petinggi-petingginya juga cuma
mengeryitkan dahi pas iseng saya tanya.
Jadi ruangan apa yang akhirnya
disulap sedemikian rupa menjadi JKT48 Theater? Kalau ada yang tau, mungkin
nanti bisa sedikit berbagi info lewat kolom comment di bawah.
Karena terus terang, saya sendiri sebelum terjerat tali-tali Idoling ini hampir
nggak pernah ke FX. Cuma beberapa kali dan itu juga cuma sebentar.
Berangkat dari rasa penasaran yang
bisa dibilang nggak penting ini, saya nyoba cari info. Orang yang saya tanya
pertama kali udah pasti si "bapak". Beliau emang belum lama kerja di
situ, tapi sebagai orang yang cukup sering jaga dan nginep di Theater, pasti
ada beberapa pengalaman yang "menarik".
"Terus terang saya juga nggak
tau, Mas Yudi. Tapi ini menurut saya, lho. Gini, kalau menurut saya, kayaknya
di sini itu ada semacam aura yang sifatnya menarik, Mas. Karena gini, saya
perhatikan orang yang baru pertama dateng, pasti besoknya bakal dateng
terus.". Saya dengerin sambil
ngangguk-ngangguk.
Kata-kata si bapak, meskipun bisa
dianggap kebetulan, tapi rasanya bener juga. Sementara ini anggaplah kalau
mereka itu ketagihan sama penampilan para member. Logikanya, sering ketemu =
jadi bosen. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, sering ketemu = makin nagih.
Padahal, ya yang ditampilkan juga nggak relatif sama.
"Hmm... Iya juga, ya. Tapi
bapak pernah ngerasa ada yang aneh-aneh, nggak? Kan bapak udah beberapa kali
nginep sini.", saya coba melempar umpan. "Saya terus terang nggak
pernah liat sih, Mas. Tapi yang lainnya, sih katanya sering denger-denger dan
liat. Nggak tau juga, sih. Saya buktinya tidur, ya enak-enak aja.".
"Tapi Mas Yudi pernah
merhatiin, nggak? Kayaknya yang Gen-2 itu kalau dibandingin sama yang Team J
kalah jauh, ya?". Saya terus terang agak kaget
ditanya kayak gitu. Soalnya waktu itu saya baru berapa kali nonton KKS, jadi
belum tau, apalagi kenal gimana mereka. "Yah, kan mereka masih
baru, pak. Wajar, sih. Nanti juga berubah lama-lama.", saya jawab
sekenanya.
***
Beberapa kali saya liat jam, udah
cukup malem. Untungnya waktu itu saya naik sepeda, jadi nggak bingung mikirin
gimana pulangnya. Dari topik yang udah terbentuk, saya coba masuk lebih dalem
lagi. "Pak, kemarin bapak liat si ****** pas lagi perform? Yang
tiba-tiba dia masuk backstage dan akhirnya nggak balik ke stage sampe
akhir?", pancingan kedua masuk.
"Oh, iya saya liat, Mas. Itu
kenapa ya? Mas Yudi tau?",
tanya si bapak. Ternyata umpannya malah mental ke saya. "Kemarin,
sih saya tanya ke anu katanya dia ketempelan, pak. Dan katanya udah cukup
sering kejadadian.”. Si bapak agak diam pas denger kata-kata saya. Diamnya
si bapak seolah menunjukkan kalau emang ada sesuatu di belakang sana.
Marilah kita lompat ke beberapa hari
setelah percakapan saya sama si bapak terjadi. Malem itu kebetulan saya lagi
pulang bareng sama temen saya yang orang staff. Kita ceritanya mau makan dulu
sebelum balik. Pas lagi asik makan ada satu orang staff lagi yang nyusul, saya
kenal juga, sih. Dia ikutan mesen makanan dan ngobrol bareng.
Dia tiba-tiba nyeletuk, “Eh,
kemarin si ****** kenapa lagi itu? Kok kayaknya dia sering banget kena, ya?”.
Saya diam, menanti tanggapan dari temen saya dulu. Temen saya jawab, “Yah,
ini juga lagi dibahas. Pas banget lo dateng.”. Denger respon begitu saya
jadi pengen nyambung juga. “Hmm… Jadi gini, katanya salah satu CASS, di
situ emang kayak ada semacam aura. Baik, sih tapinya. Tapi ga tau juga, deh…”.
Si anu nimpalin, “Serius lo?
Kalau emang ada masa kita-kita nggak dikasitau. Gw rasa bukan itu, deh. Soalnya
kalau emang ada yang kayak gitu pasti semua staff dikasitau.”. Saya diam
lagi sambil dengerin. Temen saya nyambung, “Eh, tapi pasca kejadian itu
si botak langsung ngebersihin semuanya, lho! Malem itu juga langsung manggil
orang.”. Wow! Saya agak kaget dengernya. Ternyata sampe seserius itu
kasusnya.
***
Balik lagi ke obrolan saya sama
orang wardrobe yang saya ceritain di akhir postingan sebelumnya. Ya, si
mbak-mbak dua ini kaget kenapa saya bisa tau soal ******. “Dia emang
ada keturunan bisa liat kayak gitu, mbak. Kalau nggak salah dari ayahnya. Yang
saya denger, sih gitu.”. Mereka ngangguk-ngangguk sambil bergumam nggak
percaya. “Iya, mas. Dia sering banget, lho kayak gitu. Kita udah serem
aja kalau dia begitu. Teriak-teriak, marah, ngelawan. Takut sendiri jadinya.”.
Saya cuma senyum.
Balik lagi ke obrolan kaki lima.
Saya iseng tanya ke mereka, “Emang kalian berdua yakin nggak ada ritual
khusus sebelum mulai show? Yah, apa gitu… Atau mungkin ada ruangan yang nggak
boleh dimasukin? Orang Jepang, kan terkenal sama gitu-gitunya.”. Mereka
semua menengadah, melihat ke atas untuk mencari jawaban. Lalu si anu
jawab, “Kalau ritual, sih palingan do’a bareng. Nggak ada yang
aneh-aneh.”. Tapi temen saya nyaut, “Eh, tapi ada, deh satu ruangan
yang nggak boleh dimasukin sama siapapun, termasuk sama yang orang-orang Jepang
itu.”.
Lucunya lagi, ternyata yang sering
ketempelan itu nggak cuma satu orang. Ada member lain selain ****** yang jadi
langganan ditempelin sama penghuni Theater. “Si **** juga sering tau,
yud. Coba aja lo perhatiin, deh. Mungkin kalau di stage nggak terlalu keliatan.
Tapi di backstage dia suka senyum-senyum dan nyengir sendiri. Orangnya suka
bengong, sih! Kadang sampe diingetin biar nggak bengong tapi tetep aja.”.
Jadi ngebayangin, kalo sekitar 16 member yang tampil waktu itu ketempelan
massal, kira-kira bakal jadi apa, ya?
Dan ada kejadian yang cukup unik.
Saya selalu ngingetin satu hal; sebelum, di pertengahan atau setelah lagu Hikoukigumo pasti
ada beberapa member yang tiba-tiba collapse. Biasanya di lagu Ano koro
no Sneaker mereka balik lagi, tapi ada yang “langganan” nggak balik,
bahkan sampai sesi Hi-touch. Dan kejadian ini nggak cuma sekali –
dua kali, lho. Pernah waktu itu dalam seminggu ada kejadian kayak gini hampir
di semua show RKJ. Gantian aja yang kena, penyebabnya juga macem-macem.
Pantaslah kalau saya dkk menjuluki Hikoukigumo itu lagu
keramat.
***
Jauh setelah semua percakapan di
atas, saya dan #van bahkah sempat melihat sendiri kehebohan yang terjadi karena
penghuni Theater yang satu ini. Waktu itu kalau nggak salah abis Event
Handshake kita berdua masih nonton bola di tv layar super lebar yang ada di F4.
Lagi asik-asiknya nonton, tiba-tiba ada yang keluar dari pintu staff. Keluarnya
pun bukan keluar gitu aja, tapi sambil nangis-nangis. Mau nggak mau kita
langsung ngeliat ke arah mereka.
Si member ini keluar dan langsung
disusul sama tiga orang staff, salah satunya temennya temen saya yang di atas
tadi saya sebutin. Mereka lagi ngebujuk dan menenangkan tangisnya si member
ini. Dan nggak lama akhirnya mereka pada masuk lagi. Kita berdua cuma
liat-liatan aja. #vans ngira ada kericuhan di dalam, tapi saya nggak
sependapat. Soalnya saya tau apa yang sebetulnya terjadi. Cuma waktu itu saya
masih belum mau cerita.
Sebetulnya agak susah mencari
pembenaran logika untuk persoalan kayak gini. Tapi biar gimanapun semua tempat
pasti punya misteri dan rahasianya sendiri. Kalau saya harus menarik sebuah
logika, yang muncul di kepala saya adalah, area backstage yang
sempit, dihuni oleh sekitar 20 perempuan. Tergesa dengan waktu, jadi selalu
ditinggal dalam keadaan berantakkan dan nggak terurus. Belum lagi kalau mereka
lagi period time. Yah, kalian faham maksud saya, lah.
Sampai saat ini kejadian di atas
emang masih terjadi sekitaran backstage aja. Entahlah apa
jadinya kalau semua sampai melebar ke arena fans. Agak nggak lucu kalau pas
lagi berlangsungnya show tiba-tiba seisi ruangan pada ketempelan semua. Bukan
nggak mungkin, sih. Mengingat di dalem Theater sendiri kondisinya lebih sering
gelap-gelapan, agak berdebu, sering kotor dan bikin sumpek.
***
Jadi tanpa kita sadari, di antara
riuhnya chanting dan member call, ada mereka, para
penghuni lain yang memperhatikan kesibukan kita. Bersembunyi di lipatan-lipatan
tirai yang hanya terbuka saat siang hari. Mungkin mereka terlalu merasa
kesepian, hingga kadang terpaksa menunjukkan kehadirannya di hadapan orang yang
kurang tepat dan berakhir dengan kekacauan.
Kadang memang diperlukan sedikit
rasa nggak percaya untuk menghindari halusinasi berlebih. Karena ketika kita
percaya, maka kita telah mengizinkan otak kita berfikir bahwa semua yang
dilihat dan didengar itu benar adanya. Karena kembali lagi, semua hanya akan
berakhir di obrolan pinggir jalan. Dan kadang dari sanalah semua informasi
berawal dan bisa dikumpulkan.